“Setiap orang punya takdir masing-masing dan itu sudah disiapkan oleh
sang pencipta untuk setiap umatnya di muka bumi ini”. Kata-kata itu
terlintas sejenak dibenakku saat kurenungi perjalanan hidup yang
kujalani saat ini.
“Mawar… mawar, i… ya bos ada apa bos mencari saya?” (jawab mawar yang
kaget melihat kedatangan seorang laki-laki berbadan besar dan berambut
gondrong yang selama ini dipanggilnya bos). “ada target baru buat kamu,
seorang pengusaha kaya yang ingin dilayani cuma dengan kamu saja kalau
yang lain dia tidak mau. Kamu harus terima ini kesempatan besar,
bayarannya juga pasti banyak karena pengusaha kaya” ujar si bos pada
mawar.
Mawar hanya pasrah dengan keadaan yang membuatnya seperti ini. Terkadang
dalam satu hari mawar harus melayani 3 orang laki-laki hidung belang
yang mungkin tidak puas dengan istrinya sampai-sampai mencari
pelampiasan dengan wanita lain. Terkadang mawar ingin berhenti dengan
pekerjaan ini tapi apa daya setiap ia ingin kabur dari tempat hina
dimana ia makan dan hidup setiap hari, ia selalu saja dihalangi oleh si
bos (germ*) yang mempekerjakannya selama 2 tahun silam.
Di depan cermin kutatap wajahku dalam-dalam, kumonyongkan bibir ini
untuk meratakan lipstik yang kupakai lalu kupoles pipiku dengan rata.
Kubersiap melangkahkan kaki ini ke tempat dimana aku menyerahkan diriku
sepenuhnya kepada orang lain. Seperti biasa setelah mawar melayani
pelanggannya dia buru-buru pulang dan sialnya ketika perjalanan pulang
ia di hadang sekumpulan preman yang sedang mabuk berat dan berniat jahat
pada mawar.
Berulang-ulang mawar berteriak minta tolong tapi tak ada satu orang
pun yang lewat di jalanan itu mungkin karena saat itu sudah tengah
malam, orang-orang sudah pada tidur semua. Tapi mawar terus berteriak
sekuat tenaga untuk mencari pertolongan. Mawar berharap ada malaikat
baik hati yang datang menolongnya. Tiba-tiba satu persatu preman itu
roboh berkat jurus yang dikeluarkan oleh sosok pria tampan yang berpeci
itu. Mawar yang tadinya ketakutan, spontan berlari mendekati pria itu
dan merangkulnya dari belakang.
“Astagfirullahul Adzim lepaskan tangan mbak, kita bukan muhrim. Tidak
sepantasnya mbak berbuat seperti ini”. “Maaf mas atas sikapku tadi aku
spontan, mungkin karena aku bersyukur ada orang yang mau menolongku”
ucap mawar sambil tersipu malu. “Saya mengerti mbak tapi lain kali saya
harap mbak tidak melakukan hal ini lagi” “iya mas, saya janji tidak akan
berbuat seperti ini lagi”, jawab mawar sambil menatap sosok pria tampan
yang telah menolongnya.
Sejenak mawar terdiam dan mengamati tempat itu, mawar baru sadar
kalau ternyata tempat itu mengingatkannya pada kejadian yang pernah
menimpanya 2 tahun yang lalu. Ketika mawar beranjak dari lamunannya
tanpa ia sadari pria yang telah menolongnya pun telah jauh dari
pandangannya, tanpa sempat ia mengucapkan kata terima kasih pada orang
itu. Derap langkah kakinya pun menuntunnya untuk kembali pulang
kerumahnya. Sepanjang perjalanan mawar hanya berharap bisa bertemu lagi
dengan malaikat penolongnya tadi dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Tidak seperti biasanya, mawar yang paling anti lewat di jalan mawar
yang sempat membuatnya trauma 2 tahun yang lalu, kini tiba-tiba mawar
memberanikan diri melewati tempat itu lagi. Dia berharap bisa bertemu
lagi dengan malikat yang menolongnya semalam di tempat yang sama. Kali
ini mawar rela kabur dari pelanggannya hanya untuk bisa bertemu dengan
pria itu. Hampir satu jam mawar menunggu di tempat itu, tapi sosok pria
yang dikaguminya itu belum juga lewat.
Uliran tasbih dan untaian kalimat dzikir menggema ditelingaku, sejenak
hati ini tenang mendengarkannya. Suara itu makin dekat dan makin jelas
terucap ditelingaku. “itu kan mas yang menolongku tadi malam” ucap mawar
dengan kegirangan sambil mengejar dan memanggil pria itu.
“Mas…mas,” “iya…ada apa mbak?” “mas masih ingat denganku? aku adalah
orang yang mas tolong tadi malam” ucap mawar sambil meyakinkan pria itu.
“Insya allah saya masih ingat mbak, klo boleh tau mbak ada perlu apa
memanggil saya?” “begini mas tadi malam aku belum sempat mengucapkan
kata terima kasih, mas keburu pergi deh. Btw terima kasih yah mas atas
pertolongannya semalam”. ucap mawar sambil mengulurkan tangannya dan
hendak berkenalan dengan pria itu.
“Afwan… mbak bukannya tidak mau berkenalan sama mbak, tapi di dalam
islam perempuan dan laki-laki di larang bersentuhan selama mereka bukan
muhrimnya” ucap pria itu dengan sopan. Mawar pun minta maaf dan
memperkenalkan dirinya pada pria itu. Mawar baru tahu kalau ternyata
pria yang dikaguminya itu adalah seorang ustadz, kekagumannya pada
ustadz itu membuatnya ingin bertobat dan kembali ke jalan Allah. Mawar
pun menceritakan kisah hidupnya yang kelam yang berawal dari tempat itu.
Tempat dimana dia diperk*sa oleh 7 orang preman dan akhirnya mawar yang
awalnya bernama Aisyah kemudian mengubah namanya karena merasa tidak
pantas lagi memiliki nama yang suci itu di saat badannya sudah tidak
suci lagi.
Mawar yang sudah jatuh hati sejak pertama bertemu dengan ustadz itu
pun minta tolong pada ustadz yusuf agar bisa ikut pulang bersamanya,
karena mawar ingin bertobat dan meninggalkan pekerjaannya yang hina itu.
Akhirnya ustadz yusuf pun bersedia membantu mawar untuk bertobat dan
kembali ke jalan Allah.
Ustadz yusuf mengajak mawar ke suatu tempat yang tak jauh dari rumah
pak ustadz yusuf sendiri dan tempat itu adalah sebuah pesantren yang
khusus untuk kaum hawa saja. Disana mawar dititipkan pada pemilik
pesantren tersebut dan setelah itu ustadz yusuf pun kembali menuju
rumahnya.
Sejak saat itulah Aisyah menjalani hidupnya seperti bayi yang baru
lahir lagi. Aisyah tidak ingin menoleh ke belakang lagi, ia tidak ingin
mengenang perempuan yang bernama mawar yang sebenarnya merupakan masa
lalunya yang kelam. Ustadz yusuf yang sehari-harinya selalu datang
menjenguk dan memastikan perubahan yang dialami Aisyah selama di
pesantren itu pun disalah artikan oleh Aisyah. Aisyah pun makin kagum
pada ustadz yusuf. Sampai pada suatu hari kekaguman Aisyah pada ustadz
yusuf membuatnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya langsung
di depan ustadz yusuf.
Setelah mendengar pengakuan dari ustadz yusuf, Aisyah pun minta maaf dan
merasa malu karena telah berani mencintai suami orang lain. Berulang
kali Aisyah meminta maaf dan berjanji akan mengubur dalam-dalam
perasaannya tersebut agar tidak terjadi fitnah di antara mereka berdua
nantinya. Kejadian itu membuat Aisyah berubah drastis, imannya makin
diperkuat dan ibadahnya makin khusyuk. Perubahannya disukai banyak
orang, sampai-sampai pemilik pesantren tersebut hendak menjodohkan anak
laki-lakinya dengan Aisyah.
Damayanti Childiesh Dg. Tamira
Jumat, 28 September 2012
Cerpen Karangan: Damayanti Childiesh
Facebook: Damayanti Childiesh
Lahir Tanggal 13-01-1987
No comments:
Post a Comment