Asal Usul Desa Asinan




Cerita ini hanya fiktif belaka, tidak bisa dipertanggugjawabkan kebenaranya, jika ingin lebih jelas dan lengkap tentang cerita ini silahkan hubungi pengarang.

Yusup Rokhani 
Pada zaman dahulu sebelum terjadi bencana besar yaitu banjir pada masa Nabi Nuh AS, terdapat sebuah Kerajaan kecil dimana sang Raja sangat membangkang dengan ajaran Nabi Nuh. Kerajaan tersebut bernama kerajaan Ashambawana yang dipimpin oleh seoarang raja bernama Hamba Jaya. Kerajaan ini terletak di sebuah perbukitan kecil nan subur dan di kelilingi oleh sungai, orang karajaan biasa menyebutnya dengan sungai Wherai.

Dia memiliki lima orang istri dan sepuluh orang putra serta 5 orang putri. Salah satu dari putranya yang bernama Kenshinanom percaya dan mengimani ajaran Nabi Nuh as. Raja Hamba Jaya memiliki peternakan kuda, perkebunan teh, dan perkebunan palawija yang semua itu hanya digunakan untuk kesenangan dirinya sendiri. Dia juga memiliki binatang kesayangan yaitu ayam, ayam ini tidak seperti ayam pada umumnya, orang-orang biasa menyebut ayam itu dengan Ayam Wiringgalih.
Akan tetapi karena sang raja tidak mau mengikuti ajaran yang disampaikan oleh Nabi Nuh, dia selalu membangkang, tetap menyembah berhala, dan   bermain wanita. Maka pada saat banjir super dahsyat itu tiba, semuanya lenyap tenggelam taktersisa, semua rakyat dan keluarganya binasa, hanya tinggal putranya yang beriman terhadap Nabi Nuh.
Satu abad kemudian air banjir mulai menyusut kelautan, akan tetapi sisa-sisa pasca bencana itu masih nampak jelas. Pangeran Kenshin membangun kembali kehidupan dan peradaban yang baru di sekitarnya.
Sungai yang mengelilingi perbukitan kini berubah warna karena tercampur dengan air banjir, tetapi menguntungkan dan membawa banyak berkah. Air sungai yang semula bau dan agak keruh, kini menjadi sangat jernih, bahkan lebih jernih daripada kaca, semua dapat terlihat panca indra sampai dasar sungai. Maka dari itu pangeran Kenshin menamainya dengan “Kali Bening” dari bahasa Jawa, yang artinya sungai jernih.
Tidak hanya sungai, akibat endapan parcampuran air laut, maka tempat tersebut menjadi terasa asin, mulai dari tumbuhan, tanah, batu dan airnya, sehingga pangeran menamai tempat tinggalnya sekarang dengan nama “Asinan”.
Tempat yang dulu dibuat untuk peternakan kuda, kini dinamainya dengan sebutan Gunung Jaran. Tempat yang dulu menjadi kerajaan Ashambawana kini diberi nama Sembawa.
Namun tanpa sepengetahuan pangeran bahwa hewan kesayangan raja masih hidup, ayam itu menghuni sebuah bukit yang oleh masyarakat disebut bukit Krungrungan. Wiringgalih setiap hari mencari kerajaan yang dulu menjadi tempat tinggalnya, amun hanya tinggal kenangan. Ayam tersebut akhirnya sembunyi dan menyendiri dalam alamnya sampai pangeran Kenshinanom wafat. Dan kini Wiringgalih pindah ke gunung Mandala karena di Bukit Krungrungan sudah dihuni manusia.
Pangeran Kenshinanom wafat 3 abad setelah banjir, dan dimakamkan di hutan pinus. Tempat pemakaman pangeran warga menyebutnya "Kasinoman", dan hingga kini tempat tersebut digunakan sebagai pariwisata "Curug Sinom".  
Sekian


No comments:

Post a Comment